Chapter 163 - Assasin Semua (1/2)

”Selamat datang Alisya...” Tante Loly membuka pintu masih dengan pakaian dapurnya. Meski sedang memakai celemek dapur, tante Alisya terlihat sangat seksi dan menawan. Gambar celemek dapurnya yang berbentuk bikini yang sangat seksi membuat penampilannya tampak vulgar untuk pandangan anak-anak SMA.

”Buka Nggak!!!! Tante ngapain sih pake celemek kayak gitu?” Alisya kesal tantenya membuka pintu dengan pakaian seperti itu.

”Apa sih,, ini kan bagus! Dateng-dateng sudah ngajak perang!” Tante Alisya ngedumel malas.

”Hmmm... masih standar kok!!! Miss good Job,,,” Adith menaikkan kedua jempolnya memuji kecantikan tante Alisya.

”Aku suka kok... terlihat sangat cantik dan mempesona” tambah Riyan penuh semangat.

”Tante,,,, kami semua tuh masih SMA! Nggak usah dipancing juga... tolong biarkan kami menikmati masa kami dengan nyaman!!!” Alisya meminta dengan sopan namun dengan keras menggertakkan giginya.

”Ya sudah, tante buka deh... Alisya kampungan!!!” Ucap tantenya dengan geram.

”Biar..... in.....!!!!!” Alisya dengan cepat mencolok mata Adith tanpa permisi yang beruntung Adith masih sempat berkedip sehingga tangan Alisya hanya menekan kelopak matanya namun cukup membuat matanya pedih.

”Aahhh...” serentak semua laki-laki menjerit seketika. Gani menutup mata Gina, Akiko mendorong Ryu menjauh, Adora langsung menghalangi pandangan Zein, Aurelia mengunci kepala Yogi dipinggangnya, Emi menampar keras mata Beni dan Karin membanting Rinto dan Riyan dengan kasar agar tak melihat tubuh tante Alisya yang hanya memakai baju kaos putih yang ketat dan transparan serta tak memakai bra.

”Taaaaannnnnteee!!!” Alisya berteriak dengan sangat kesal langsung membungkus tantenya dengan menarik horden jendela rumahnya.

”Pletakkk Bukkkk...!!!! Kebiasaaan,, kau ingin aku kremasi???” nenek Alisya datang menghampiri dengan kesal sambil memukul kepala tante Alisya dengan gemas.

Setelah puas dan membungkus tantenya seperti kue dadar, Alisya masuk masih dengan wajah yang bersungut-sungut marah. Para pria masih meringis kesakitan tak tahu akan kejadia apa yang barusan terjadi pada mereka, terakhir mereka hanya sempat melihat kalau tante Alisya sedang melepas celemeknya dihadapan mereka namun sedetik kemudian semuanya berubah gelap dan kacau.

”Dasar Tante ini tidak pernah berubah dari Dulu. Pantesan saja tante Loly tidak menjemput, ternyata lagi masak.... Sekampung????” Alisya masuk dan kaget melihat makanan yang sangat banyak sudah tersedia diatas meja dan memenuhi 2 meja panjang yang d buat berbaris.

”Kau sudah menahan diri cukup lama selama dirumah sakit bukan?. Terlebih semua teman-temanmu juga belum makan sepulang sekolah jadi nenek ajak saja semua kesini” nenek Alisya masuk diikuti oleh semua teman-temannya.

”Rapikan dulu barang-barangmu dan kembali kesini” Ayahnya keluar memakai pakaian dapur begitu pula kakeknya.

”Pantas saja kalian berdua tidak datang, aku pikir kalian sedang sibuk!” Ucap Alisya tersenyum melihat pakaian dapur yang terlihat lucu dipakai oleh dua orang bertubuh kekar itu.

”Jadi kita makan banyak nih???” Karin segera menuju kemeja dan takjub dengan makanan mewah yang sudah tersedia.

”Apa ada yang bisa kami bantu tante Loly?” Beni bertanya memastikan apakah ada yang bisa mereka lakukan.

”Stop,,, aku belum nikah jadi jangan panggil aku tante!!! Saat ini umurku masih 27 tahun jadi jangan macam-macam dengan menyenutku tante...” Tante Loly menunjuk tajam hidung Beni yang sekarang wajahnya menjadi gugup.

”Lalu kenapa Alisya memanggilmu tante??? Apa karena dia adalah ponakamu?” Tanya Yogi penasaran kenapa tante Alisya marah pada Beni karena di panggil tante.

”Itu karena Alisya yang keras kepala memanggilnya tante dibanding dengan kakak, meski mereka harus bertengkar tiap saat hanya untuk sebuah nama panggil yang pada akhirnya tante Loly menyerah terhadap Alisya.” Jelas Karin sambil tertawa mengingat pertempuran mereka dengan Alisya.