Chapter 161 - Pak Yuda (2/2)
”Maaf, aku tak bermaksud apa-apa. Hanya saja pak Yuda bahkan mendatangi semua siswa di kelas Mia 2 untuk meminta maaf. Dia juga yang membayar biaya pengobatan semua siswa yang mengalami luka-luka!” Jelas Adora mengelus pundaknya yang panas.
”Pak Yuda bahkan menerima semua bentakkan dan amarah yang dilontarkan oleh orang tua kami, meski sebenarnya kami juga sudah menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada mereka!” Tambah Emi masuk mengikuti langkah Karin dan Adora.
”Bapak bahkan sampai mendapat tamparan karena Beni mendapatkan luka yang cukup parah lalu!” Jelas Feby menatap dengan rasa bersalah karena perlakuan orang tuanya kepada pak Yuda yang mana pak Yuda termasuk salah satu korban juga.
”Apa nenek juga melakukan hal yang sama?” Tanya Karin melihat wajah kacau pak Yuda dengan rambut acak-acakan.
”Yup!!! Nenek melakukannya dengan sangat profesional...” Alisya menaikkan kedua jarinya.
”Buk,,,” pukul nenek Alisya tepat diperut Alisya. ”Itu karena nenek salah paham dan mengira dia seorang penjahat!” Jelas neneknya lagi merasa kesal.
”Sudah ku duga!” Karin tertawa cekikikan..
”Ketawa dosa nggak yah???” Wajah Aurelia memerah menahan tawanya.
Pak Yuda langsung tertawa mengingat kenyolonyan yang terjadi sebelumnya serta bagaimana dia dengan mudah dilumpuhkan oleh seorang nenek-nenek. Hal itu membuat yang lainnya pun ikut tertawa sembari menyalami pak Yuda.
”Apakah bapak baik-baik saja?” Rinto masuk bersama dengan para pria lainnya.
Alisya memicingkan alisnya bingung akan ekspresi serius Rinto saat bertanya kepada pak Yuda. Alisya merasa ada yang tidak beres dengan pak Yuda.
”Kami sudah mendengar semuanya, bapak sudah dikeluarkan dari sekolah karena kejadian kemarin!” Aurelia memandang pak Yuda dengan tatapan sendu.
”Bapak juga sudah menghabiskan semua tabungan bapak karena kami” tambah Yogi merasa tidak enak dengan keadaan pak Yuda saat ini.
”Bapak memang belum menikah saat ini, tapi bukan berarti bapak menghabiskan semua uang bapak karena kami!!!” Beni langsung berdiri tepat dihadapan pak Yuda yang terdiam.
”Bapak tau kan? Sekolah SMA Cendekia memang sekolah elite dengan bayaran termahal di Indonesia, akan tetapi ke keluar dari sekolah itu juga memiliki resiko yang sepadan. Bapak akan kehilangan karir mengajar bapak!” Tegas Adora menyalahkan sikap pak Yuda yang mengundurkan diri dari sekolah dengan ceroboh.
”Sekarang apa yang akan bapak lakukan?” Tanya Rinto lagi.
Pak Yuda hanya terdiam tak tau harus berkata apa, baginya ia harus melakukan semua itu dan mempertanggungjawabkan kesalahannya. Memang resikonya besar, namun ia rasa itulah jalan yang benar demi menjaga nama baik sekolah yang selama ini terus dipertahankan.