Chapter 148 - Pura-pura Tidur (2/2)

Apa???” Alisya kaget saat keningnya dikecup Adith dengan bibirnya yang hangat dan lembut.

Rasa rindunya telah membuatnya begitu frustasi, Adith mendekatkan wajahnya menempatkan bibirnya tepat dihadapan bibir Alisya.

”Tunggu sebentar, kenapa aku merasa wajah masih sangat dekat? tunggu, tunggu!!! apa yang akan kamu laku...??” Belum selesai Alisya bergelut dengan fikirannya yang penuh rasa khawatir. Adith yang Menahan nafasnya dan menutup matanya dengan sangat erat lalu tinggal beberapa centi kemudian Adith menempatkan jempolnya diatas bibir Alisya yang hangat dan menciumnya.

”Hahhhh??? Jempol lagi??? Ehh?? apa yang kamu pikirkan Alisya, nyebut-nyebut... haram tau!!! Anjrit aku jadi terbawa suasana. Aduh Adith yang ketiga itu setan, bisa gawat kalau aku pura-pura tidur terus nih! pikiranku makin tak terkontrol” Alisya semakin tak mampu mengontrol dirinya saat ini. Adith sudah mendaratkan tangannya dibibirnya membuat Alisya merasakan hembusan nafas Adith menerpa lembut bibirnya yang sudah membuat tubuhnya semakin kepanasan.

”Huhhhhh,,, mungkin sebaiknya aku pergi sekarang! Aku sudah tak sanggu menahan pesonamu Sya,,,” Adith menggeram keras berusaha menenangkan diri.

”Bukan kau, tapi aku yang sudah hampir gila karenamu sekarang!!!” Alisya memaki Adith dengan bengis dalam tidurnya.

”Kenapa dengan Aroma tubuhmu?? Aku mencium aroma kegusaran dan kegundahan apa kau sedang mimpi buruk lagi? Bahkan keringatmu semakin banyak saat ini” Adith melihat wajah Alisya yang tampak gusar lalu dengan cepat mengambi tisu dan membersihkan peluh didahi serta leher Alisya.

Mendengar pertanyaan Adith, Alisya langsung terdiam yang kemudian membuat jatung serta nafasnya seketika menjadi tenang. Ucapan Adith mengenai Aroma tubuhnya membuatnya terpikir kalau mungkin saja indra penciuman Adith semakin berkembang tepat seperti apa yang terjadi pada pendengarannya. Namun sepertinya Adith belum menyadari hal tersebut yang membuat Alisya sangat ingin mengujinya.

Setelah melihat Alisya yang tampak mulai tenang dan kembali terlelap dalam tidurnya, Adith kemudian membereskan tisu yang dipakainya lalu bersiap untuk pergi.

”Sampai jumpa lagi” bisik Adith lembut lalu berbalik badan membelakangi Alisya. Tepat saat ia akan menuju ke pintu, ia langsung mencium bau menyengat yang sangat merusak indra penciumannya yang membuatnya merasa sakit. Namun entah kenapa Aura itu lebih teras penuh akan kesedihan bukan aura pekat yang seperti ia rasakan pada orang yang berada diatap sekolah tempo lalu. Tak bergeming, Adith mencoba menenangkan diri dan menganalisa arah datangnya aroma itu.

”Aroma membunuh ini??? Alisya???” Adith berbalik dengan cepat begitu mengetahui bahwa aroma itu adalah aura membunuh yang dikeluarkan oleh Alisya.

Alisya sudah berada tepat dihadapan Adith sangat dekat yang kemudian memojokkan Adith kepintu sedang Alisya sengaja mendekatkan dirinya untuk bisa mendengarkan detak jatung Adith yang ketakutan. Bukannya mendengar detak jantung yang ketakutan yang harusnya dikeluarkan oleh Adith, Alisya malah mendengar detak jantung penuh waspada dan perlindungan penuh yang hangat serta menenangkan.