Chapter 134 - Wajah Melamun (2/2)

”Apa itu sebuah pujian?” Karin mengerutkan keningnya melihat Alisya berbicara kepadanya tapi pikirannya seolah berada ditempat lain.

”Pagi,, nggak nyangka pagi ini kalian sudah sesemangat itu!” Adora masuk dengan penuh senyuman.

”Kita bisa sekelas lagi yah?” Seru Emi langsung mengambil tempat di belakang Alisya.

”Eitsss... ada yang lebih mengejutkan nih.. Lihat siapa yang sekelas bersama kita!” Feby membawa masuk Aurelia dan mendudukkannya dihadapan Karin.

”Bagaimana bisa? bukannya dia berada dikelas sebelah?” Alisya bukannya tak menerima kedatangan Aurelia, ia hanya beranggapan kalau Aurelia mungkin pindah kekelasnya karena ia ingin sekelas dengan mereka.

”Sebenarnya anak ini sekolah dimana sih??? kenapa segitu cueknya dengan lingkungannya sendiri!” Karin menepuk jidatnya dengan pelan.

”Alisya,,, sekolah melakukan perombakan peringkat kelas ketika siswa mendapatkan nilai yang cukup tinggi sehingga akan ada beberapa siswa yang masuk kekelas Mia 2 yang merupakan kelas tertinggi setelah Mia 1 dan akan masuk kekelas terendah jika nilai mereka tidak mencukupi” Jelas Adora panjang lebar.

”Itulah kenapa ada beberapa teman kita yang turun tingkat karena ada beberapa siswa yang naik tingkat!” lanjut Emi menambahkan begitu melihat Aurelia masuk maka ada salah seorang dari mereka tergeserkan.

”Dan aku berhasil maju ke tingkat Mia 2 karena memiliki nilai yang cukup tinggi” terang Aurelia yang tersenyum canggung.

”Okeh,,, itu artinya sekarang kau adalah bagian dari kami” seru Feby tersenyum manis menyambut kedatangan Aurelia.

”Kita yang sudah menaiki kelas 3 akan merasakan nerakanya dunia pembelajaran selama beberapa bulan kedepan!” Rinto masuk menempati kursi yang tak jauh dari mereka.

”Yup benar, sejumlah les, pengayaan serta simulasi harus kita lakukan demi bisa lulus dalam Ujian Nasional” tambah Yogi yang datang bersama Beni.

”Ujian yang akan dilaksanakan oleh sekolah SMA Cendekia sungguh tak bisa dianggap remeh” Beni menaruh tasnya mendesah mengingat apa yang akan mereka hadapi kedepannya.

”Iya aku dengar soal itu, Ujian yang dilaksanakan oleh sekolah kita bukan hanya sebagai ujian pelulusan dari sekolah melainkan juga menjadi ujian masuk sebuah Universitas tinggi baik luar maupun dalam negri” Jelas Adora setelah beberapa hari lalu bertanya-tanya kepada senior mereka yang telah lulus.

”Aku juga dengar bahwa Kak Siska tidak perlu lagi melakukan pendaftaran apapun untuk bisa diterima di universitas-universitas elit dan besar dunia karena dia akan langsung mendapatkan tawaran dari mereka sebab nilai ujiannya yang cukup tinggi” tambah Karin melonggarkan tubuhnya.

”Itu artinya siswa yang tidak lulus tidak bisa mengikuti ujian persamaan disekolah manapun dan tidak akan diterima bekerja diperusahan manapun atau instasi manapun di Indonesia!!!” tegas Feby merinding membayangkannya.

”Aku yakin kita semua bisa melakukannya, tapi tentu saja cara belajar kita harus lebih tingi dan keras dibanding dengan apa yang sudah kita lakukan kemarin.” Kalimat Alisya seolah menjadi sebuah pembakar semangat yang sangat membara.