Chapter 41 - Sangat Cocok! (1/2)

Semenjak mengetahui kebenaran mengenai Alisya yang sesungguhnya dengan kerumitan dan tingkat bahaya yang bisa di hadapi oleh mereka, Adith tak pernah lagi menampakkan dirinya dihadapan Alisya.

Alisya paham bahwa siapapun takkan mengambil resiko untuk bisa terus berada disampingnya apalagi dengan semua hal berbahaya yang bisa mengancam nyawa mereka kapanpun dan dimanapun.

”Adith tidak pernah lagi menghubungimu?” Tanya Karin setelah sekian lama berputar-putar mengajak Alisya keluar dari kamarnya yang gelap.

”Tidak! mungkin dia akhirnya sadar kalau nyawanya lebih berharga dibanding seorang cewek seperti aku.” Jelas Alisya lemah.

”Tapi aku tak menyangka ia akan bersikap seperti itu!” langkah Kaki Karin berhenti disebuah Kafe kecil yang nyaman.

”Tidak, dari awal memang seharusnya aku tak membiarkan siapapun berada dalam lingkaranku! kau ingatkan penembakan tempo hari?” Alisya mengikuti Karin yang memasuki Kafe tersebut.

”Aku tau, tapi ini semua bukanlah salahmu Sya! kau juga tak menginginkan hal ini” Karin mencoba memberikan motivasi kepada Alisya.

”Aku sudah mengambil keputusan Karin!” Alisya duduk dan menatap karin serius.

”Keputusan??? maksud kamu?” Karin sedikit ragu dengan pemikiran Alisya.

”Aku sudah terlanjur diketahui oleh semuanya, aku juga sekarang sudah tak bisa menyembunyikan keberadaanku dari kakek dan Ayah. Nenek juga sudah cukup tua untuk mengurus dan mengikutiku berpindah-pindah tempat setiap kali kakek menemukan kami!” Alisya memandang jauh keluar jendela.

”Apa kamu yakin? kamu tau kan resiko apa yang akan kamu hadapi?” Karin membelalakkan matanya tak percaya. Ia tau betul selama ini ia terus menyembunyikam keberadaannya kepada kakeknya karena saudara-saudara kakeknya ingin melenyapkan Alisya yang menjadi pewaris saham terbesar sepeninggal Ibunya. Karena kakeknya juga lah hidup Alisya tak pernah tenang dan orang disekitarnya selalu mendapat masalah. Kakeknya terlalu posesif terhadap kehidupan Alisya sehingga ia tak membiarkan satupun orang untuk mendekati Alisya.

Alisya yang menginginkan kehidupan normal terpaksa menyembunyikan dirinya dari kakeknya.

Selama liburan akhir semester, Alisya melakukan banyak kesepakatan dengan kakeknya dan tak ingin lagi bersembunyi dari ayah dan kakeknya. Alisya sadar dengan semakin ia terus menghindari keduanya ia semakin mempecundangi dirinya sendiri yang kemudian takkan bisa berguna apa-apa.

”Apa kau sudah bisa memaafkan ayahmu???” Karin bertanya kembali kepada Alisya yang sedang menikmati eskrim coklatnya.

”Aku takkan pernah bisa memaafkan dia yang sudah meninggalkan Ibu yang bahkan tak pernah kembali sampai Ibu pergi ke peristirahatannya yang terakhir. Dulu aku berharap setidaknya sekali saja ia muncul dan memberikan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah sekaligus seorang suami, tapi itu tak pernah terjadi. Aku juga tak bisa memaafkannya karena memang dari dulu Ayah tak pernah menganggapku sebagai seorang anak hanya karena aku bukanlah laki-laki yang bisa meneruskan obsesinya” Jelas Alisya menekan-nekan eskrimnya.

”Alisya, kau tau aku akan terus berada disampingmu tak perduli resiko apa yang terjadi. kau selalu melindungiku selama ini dan selalu menjagaku. aku tau ibumu berpesan agar kita selalu bersama tapi aku tak ingin kau terus terbebani olehnya” Karin menatap Alisya dengan penuh haru.

”Karin kau satu-satunya sahabatku, dan aku tau demi bisa melindungi dirimu dan melindungiku, kamu pergi keberbagai pelatihan beladiri. Tapi kau tau aku tetap ingin melindungimu karena hanya kamu dan nenek yang aku miliki sekarang” Terang Alisya memegang tangan Karin.

”Tidak Sya, biarkan kali ini kami yang melindungimu! kamu tak perlu khawatir tentang kami, aku juga sudah mendapatkan lisensi” Karin menaikkan kartu lisensinya.

”Lisensi asisten dokter dan apa ini??? lisensi ahli menembak (Sniper) kamu sudah gila yah? sejak kapan kamu melakukan ini? tunggu dulu apa maksudmu dengan kami?” Alisya menyerang Karin secara bertubi-tubi.

”Karena kami tak ingin kemapuan kami kalah darimu Alisya,,,” Bisik seseorang dibelakangnya sambil mengambil eskrim coklat dari tangan Alisya.

”Kak Karan??? kapan kakak kembali???” Alisya kaget melihat Karan dihadapannya.

”Kemarin!!! Karin yang menelponku berkata hampir sebulan selama liburan kamu tak pernah keluar dari kamarmu” Karan memberikan kecupan ke jidat Karin.

”Apa'an sih kak, aku tuh sudah SMA tingkat 2! bukan anak kecil lagi yang pakai dikecup-kecup segala” Karin kesal dengan perlakuan Karan yang selalu memanjakannya.

”Apa'an sih,, Alisya diam aja tuh aku kecup!” Lirik Karan ke Alisya.

”Ya itu karena Alisya lagi shock dengan kedatangan kakak, selain itu Alisya juga kan ada pera...” Mulut Karin seketika disuapi eksrim oleh Alisya.

”Hai Alisya,,,” Adora, Emi dan Feby menyerobot duduk disamping Alisya.

”Ngapain kalian ada disini?” Alisya terpojok didekat jendela.

”Karin yang menghubungi kami” Rinto, Yogi dan Beni muncul dari balik kursi.