Chapter 173 - Hanya Terangsang Padamu (2/2)

Perceraian Ke-99 Wan Lili 42820K 2022-07-21

Su Qianci terkejut dan segera menarik tangannya kembali. Namun, Li Sicheng tidak akan membiarkannya melakukan itu. Sebaliknya, Li Sicheng menarik tangannya lebih jauh ke bawah, memaksanya untuk menyentuh ereksinya.

Ahhhhhh … Su Qianci merasa malu, menutup matanya dan berpura-pura bahwa dia tidak mengetahuinya. Li Sicheng membawa tangannya ke ….

Saat ingin menarik tangannya kembali, dia merasa cengkeraman Li Sicheng semakin erat.

”Apakah kamu merasakan keberhasilanmu?”

Keberhasilanmu--Banyak wanita mencoba merayuku, tetapi kamu adalah satu-satunya wanita yang berhasil.

Bagaimana dia bisa tidak tahu bahwa dia telah merayu Li Sicheng? Su Qianci membuka matanya yang berkaca-kaca, yang membuat Li Sicheng hampir kehilangan kendali. Li Sicheng menunduk dan mengisap bibirnya yang membengkak, menggoda Su Qianci dengan ujung lidahnya. Su Qianci merasa seperti tersengat listrik. Seluruh tubuhnya lemas. Dia tidak bisa menolak apa pun dari Li Sicheng.

Apakah Li Sicheng sedang mengatakan padanya bahwa dia mencintainya? Memikirkan kemungkinan itu, Su Qianci merasa dia akan menjadi gila. Namun, suara dalam benaknya dengan cepat berteriak: itu tidak nyata, tidak nyata …. Dia telah memutuskan untuk tidak jatuh cinta pada Li Sicheng dan memberi Li Sicheng dan Tang Mengying sebuah akhir yang bahagia. Namun, setiap kali dia akan menyerah, Li Sicheng selalu bersikap baik padanya …. Hari ini, Li Sicheng bahkan mengatakan hal itu padanya ….

Itu membuat semakin sulit baginya untuk menolak. Seolah-olah mimpi yang dia miliki selama bertahun-tahun tiba-tiba menjadi kenyataan. Wajah Li Sicheng sangat nyata, dan ciumannya pun begitu bergairah. Dia tidak ingin mengubah semua ini. Dia tidak ingin bangun. Anggap saja apa pun yang Li Sicheng katakan itu benar, bisakah dia? Su Qianci merasa getir dan air mata jatuh menetes di pipinya.

Li Sicheng berhenti tetapi kemudian bergerak lebih cepat ketika melihat air mata Su Qianci. Tangannya meluncur turun dan memegang payudara Su Qianci yang besar. Sedikit meremasnya, Li Sicheng mendengar erangan erotis yang lembut dari Su Qianci. Nafsu berahi membuat tubuhnya terbakar. Namun, mereka masih di tempat umum.

Orang-orang mulai melirik mereka. Meskipun itu Maladewa, tempat di mana semua orang menikmati hal-hal yang romantis, mereka berdua masih menjadi pasangan yang menarik perhatian. Li Sicheng tidak ingin saat bercinta romantis pertama mereka menjadi biasa saja, jadi dia menenangkan dirinya dan berjalan kembali ke hotel menggendong Su Qianci dalam pelukannya.

Begitu berada di dalam kamar, Li Sicheng tidak bisa lagi menahan diri. Sambil membanting pintu hingga tertutup, dia tidak sabar untuk menyandarkan Su Qianci ke pintu dan menciumnya dengan keras. Setelah membuka ritsleting gaun Su Qianci dengan satu tangan, dia menarik gaun itu ke bawah, memperlihatkan bahunya yang menawan. Di bawah pencahayaan remang-remang, pemandangan itu cukup merangsang Li Sicheng yang sudah kehilangan akalnya. Dia memeluk pinggang Su Qianci, kemudian mengangkat Su Qianci dan menjatuhkan diri ke tempat tidur.

Kasur empuk itu sedikit bergoyang. Li Sicheng menundukkan kepalanya dan perlahan-lahan mencium leher Su Qianci yang anggun, tidak melewatkan setiap jengkal pun. Saat merasakan napas Li Sicheng di lehernya, Su Qianci mengangkat kepalanya dan melingkarkan lengannya di tubuh Li Sicheng. Sebuah perasaan menggelitik dikirim dari lehernya ke seluruh tubuhnya. Su Qianci hampir merintih. Su Qianci berpikir bahwa Li Sicheng akan selalu tenang dan bijaksana. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa mungkin ada saat-saat Li Sicheng benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Saat tulang selangkanya digigit, Su Qianci tidak bisa menahan diri untuk merapatkan kakinya. Namun, kakinya berada di antara kaki Li Sicheng, sehingga yang bisa dia lakukan hanyalah melingkarkan kakinya di pinggang Li Sicheng. Bahkan melalui apa yang Li Sicheng kenakan, Su Qianci bisa merasakan panas tubuh Li Sicheng yang membara.

Menyadari posisi mereka berdua, Su Qianci terengah-engah di bawahnya dan berbisik, ”Pe … pelan-pelan ….” Mendengar perkataan Su Qianci, Li Sicheng segera mencium bibirnya lagi, melarangnya untuk berbicara.

Ketika Su Qianci hampir kehabisan napas, Li Sicheng melepaskannya dan menjawab dengan suara yang berat, ”Aku tidak bisa. Aku harus memilikimu.”

Mendorong gaunnya ke bawah, Li Sicheng melihat sebuah bralette 1 putih di kulitnya yang cantik. Kelembutannya hampir membuat Li Sicheng gila.

Bang bang bang!

Sebuah ketukan keras di pintu membuat Li Sicheng tiba-tiba berhenti.

Bang bang bang!

Suara bising itu terus berlanjut, dan Su Qianci segera mendorong Li Sicheng menjauh, menutupi dirinya dengan selimut. Jeda tiba-tiba itu membuat tubuh Li Sicheng yang sedang terangsang terbakar bahkan semakin panas. Dia mengeluh, ”Siapa itu?”

Bang bang bang!

Dengan pipinya yang berwarna merah muda, Su Qianci melihat tatapan mata Li Sicheng yang tidak ramah dan dengan hati-hati berkata, ”Bukalah pintunya. Mungkin kakek mencari kita?”

Pakaian Li Sicheng berantakan. Begitu juga rambutnya. Mendengar Su Qianci mengatakan itu, dia keluar dari tempat tidur dengan wajah yang nelangsa, dan membuka pintu.

Petugas hotel tidak berharap melihat sebuah wajah yang mengintimidasi dan tergagap-gagap, ”Tuan Li? Apakah Anda cucu dari tamu di kamar 389? Beliau … tiba-tiba tidak sadarkan diri ….”

Sebelum petugas hotel itu menyelesaikan kalimatnya, Li Sicheng sudah membuka pintu dan bergegas menuju kamar 389. Ketika mereka tiba di rumah sakit, waktu menunjukkan sudah pukul 10 malam lewat.

Su Qianci sudah mengetahui bahwa Kapten Li memiliki tekanan darah tinggi. Namun, ini adalah pertama kalinya dia pingsan dalam gabungan dua kehidupannya. Setelah menunggu lebih dari setengah jam, kakek akhirnya tersadar. Li Sicheng menghela napas lega, menuangkan segelas air untuknya, dan mengulurkan gelas itu kepadanya. Saat melihat cucunya, Kapten Li tampak sedikit merasa bersalah.

Wajah Li Sicheng terlihat kesal saat dia memberi tahu Su Qianci, ”Beri kami satu menit.”

Bra dengan atau tanpa busa pengganjal, tanpa dilapisi kawat apapun. Bralette lebih lembut, biasanya berenda