Chapter 441 - 440 (1/2)

”Silvia.. ada apa denganmu nak? Mengapa teriak, teriak tidak jelas?”, tanya Ibu Yuliana dengan buru – buru masuk ke dalam kamar Silvia.

Senyum lebar tersungging di bibir  Silvia dan ia berbalik arah menuju Ibunya dengan wajah tanpa rasa bersalah. ”Ibu, sorry... Silvia tidak ada apa – apa kok. Hanya kesal saat Ludius akan video call baterai ponsel malah low. He he he..”

”Hufft..” Ibu Yuliana menghela napas panjang. Dia benar – benar cukup kesal dengan kelakukan putrinya kali ini. Teriak pada malam hari karena baterai ponsel low. Selamat.. semua orang terkena ZONK!!!

”Silvia, bisa tidak kamu malam – malam begini tidak membuat keributan? Kasihan orang – orang yang dengar, Nak?”. Tegur Ibu Yuliana.

Dari arah pintu para pelayan rumah berbondong – bondong masuk untuk melihat kondisi Silvia yang tiba – tiba berteriak tidak jelas. Mereka  cukup tercengang melihat bahwa Nyonya mereka masih dalam keadaan baik – baik saja.

”Nyonya Lu, apakah ada  sesuatu yang di butuhkan? Sepertinya Nyonya barusan berteriak cukup keras.” tanya salah satu pelayan mansion mewakili pelayan lain yang datang.

”Ah.. ha ha.. maafkan aku yang telah membuat kalian panik. Aku sekarang sudah tidak apa – apa. Kalian boleh melanjutkan pekerjaan kalian”. Kata Silvia dengan melebarkan senyumnya,

Tidak hanya Ibu Yuliana, kali ini beberapa pelayan juga cukup kesal dengan tingkah Nyonya mereka. Tapi saat teringat bahwa Silvia sedang mengandung ke jengkelan para pelayan sirna sudah. ”Jangan terlalu marah sepeerti itu, kalian bukankah tahu sendiri kalau Nyonya muda sedang mengandung. Wajar saja kalau dia teriak. Mungkin untuk melampiaskan kekesalannya. Sudah – sudah lebih baik kita lannjutkan bekerja..” kata salah satu pelayan membuyarkan opini – opini pelayan lain yang mulai membicarakan Silvia,

Setelah para pelayan yang saling mengerubung bubar, Silvia kepikiran untuk membuka laptop yang ada di meja untuk video call. Dia belum menyerah untuk bisa menghubungi Ludius.

”Bu, aku tidak apa – apa, Ibu bisa keluar dan lanjutkan pekerjaan Ibu..” kata Silvia untuk menenangkan hati Ibunya.

”Lain kali kalau ada sesuatu di pikirkan secara baik – baik, kamu paham nak..” Tegur Ibu Yuliana.

Ibu Yuliana memang paling bijaksana dalam mendidik putrinya, apalagi di saat hamil muda seperti ini. emosi Silvia yang tidak stabil, menantu yang sedang pergi bertugas keluar. Kadang itu membuat Ibu Yuliana berfikir.

Inilah kehidupan, selalu berjalan pada porosnya meski di setiap langkah selalu menemukan hal baru dan baru. Tapi Ibu Yuliana yakin, semua pasti akan kembali seperti sedia kala. Jadi Ibu Yuliana tidak bisa marah pada Ludius tentang yang terjadi pada Silvia. Karena ini bagian dari Takdir.

”Aku paham Ibu, tadi itu hanya syok dan spontan karena kesal. Di saat akan video call dengan Ludius malah ponsel mati. Lain kali Silvia tidak akan membuat keributan.” Silvia tersenyum menerima teguran dari Ibunya.

Ibu Yuliana menarik kembali selimut Silvia dan membaringkannya ke posisi semula. ”Istirahatlah Silvia, nanti kalau makan malamnya sudah siap, Ibu akan antarkan ke kamarmu”.

”Tidak perlu Bu, aku bisa makan di ruang makan kok. Biar kita bisa makan malam bersama – bersama”.

”Baiklah, Ibu tidak akan mengganggumu lagi. Kamu istirahatlah, Nak”. Ibu Yuliana mengusap kepala Silvia lalu pergi dari hadapannya.

Setelah Ibu Yuliana keluar dari kamarnya, Silvia berbegas beranjak dari tidurnya lalu dengan cepat menyambar laptop yang berada di meja belajar. ”Ck ck ck.. mengapa tidak terpikirkan olehku sebelumnya? Lebih baik aku hubungi Ludius sekarang.”

Laptop sudah di aktifkan , dan sudah membuka fitur video call. Lama panggilan dari Silvia terhubung, mungkin jaringannya sedang buruk. ”Silvia, sabar.. kamu harus sabar menunggu, siapa tahu jaringannya sedang buruk.” Gumam Silvia meski keningnya sudah mengerut menahan amarah.

Karen kesal, Silvia membawa laptopnya menuju sofa, sambil bersandar Silvia menunggu panggilannya tersambung. Ketidak sabaran Silvia kali ini persis seperti cacing kepanasan. Pecicilan mulu tidak jelas, sampai lupa lagi hamil kayaknya ini orang..

[Hallo, Sayang..] Sapa Ludius, ia sedang duduk di kursi. Kondisi masih di dalam pesawat.

[Hallo, suamiku.. Kamu nyebelin juga yah jadi orang! Mengapa baru sekarang kamu telepopn! Apa kamu tidak sadar dan tidak tahu kalau aku sudah menunggu teleponmu dari tadi!] cerocos Silvia. Ia memperlihatkan ekspresi marahnya pada Ludius. Namun ekspresi marah Silvia justru membuat Ludius tertawa.

[Ha ha ha,, ampun istriku, iya maafkan aku.. sejak tadi jaringannya sedang tidak bagus. Padahal aku sudah berusaha menelponmu, loh..] bujuk dan rayu Ludius pada istrinya. Ia bahkan memperlihatkan tampang manis dan imuetnya.

Benar – benar sedang meledek ini orang..?!