Chapter 428 - 428 (1/2)
'Kau mengatakan itu karena kau belum mendengar setengah fakta dari Silvia yang kemungkinan masih salah satu anggota Kerajaan Hardland.' batin Ludius. Tapi ini Ludius simpan untuk menjaga kondisi Silvia tetap aman dari orang Kerajaan Hardland yang kemungkinan menginginkan nyawanya.
[”Hallo Pangeran Richard. Maaf membuat anda lama menunggu..”] sapa Ludius di ujung telepon.
[”Tidak masalah, ada hal yang ingin aku tanyakan padamu. Bagaimana kondisi Silvia saat ini? apakah Dokter yang sudah aku perintahkan untuk terbang ke Indonesia masih juga belum datang?”]
[”Belum, Dokter yang Pangeran perintahkan untuk memeriksa kondisi Silvia masih juga belum datang.”]
[”Oh. Baiklah.. Aku akan menghuunginya dan memastikannya sudah ada di mana saat ini. aku juga tidak bisa membantu lebih dari ini. aku hanya berharap kondisi Silvia lekass membaik”]
[”Baiklah, aku akan menunggu kembali kabar nya dari anda, Pangeran. Kalau begitu, saya tutup teleponnya.”]
Tut tut tut..
Telepon terputus dan sekali lagi, Ludius masih belum menemukan kepastian tentang cara mengobati luka yang ada dalam rahimnya.
”Jadi apa yang di katakan Pangeran Richard?”. Tanya Linzy
”Beliau sedang mengutus Dokter terbaiknya untuk terbang ke China demi melihat kondisi Silvia sebenarnya.”
Dari arah pintu, terdengar langkah berat seseorang dan sebuah ketukan pintu. ”Nak, boleh Ibu masuk ke dalam?”. Tanya Ibu Yuliana di depan pintu.
”Masuk saja Bu,.” Balas Ludius. Ia beranjak dari duduknya untuk menyambut Ibu Yuliana yang datang ke kamarnya pasti karena membawakan makanan untuk Silvia, pikirnya.
”Nak, Ibu bawakan bubur untuk Silvia dan beberapa snak camilan dan minuman untuk menyuguh tamu kita..” kata Ibu Yuliana.
”Terima kasih, Bu. Sebenarnya Ibu tidak perlu repot – repot membawakan kami makanan. Aku bisa meminta pelayan untuk membawakan hidangan untuk Dokter Linzy”. Ludius mengambil alih nampan yang cukup besar karena isinya berbagai macam makannan dan membwanya ke meja.
Dari ujung pintu, Ibu Yuliana melihat dengan mata basah kondisi Silvia yang terlihat cukup jelass sangat lemah. Ia perlahan berjalan menghampiri put semata wayangnya. Tepat saat berdiri di samping Silvia, Ibu Yuliana menyentuh wajah Silvia yang lembut namun terlihat tirus.
”Nak Ludius, mengapa kondisi Silvia bisa sampai seperti ini?”. tanya Ibu Yuliana dengan menahan perasaan sedih dan terlukanya. Ia ingin marah pada Ludius juga sepertinnya tidak mungkin. Maka Ibu Yuliana hanya bisa diam menahan air matanya agar tidak jatuh.
Dari nada bicaranya, sudah jelas Ibu Yuliana sangat terluka, kecewa bahkan sangat membenci hal ini terjadi pada Putrinya. Hal ini menjadi pukulan berat bagi Ludius yang saat ini adalah suami sah Silvia. Ia menghampiri Ibu Yuliana dan memegang pundak beliau dari belakang.