Chapter 308 - 308. Belanja di pasar (1/2)

Silvia yang masih mengajarkan step by step cara mengolah ubi menjadi camilan yang bernama combro terhenti karena tempe untuk isiannya yang nanti akan di jadikan sambal habis. Ia memutar otaknya sejenak dan memikirkan apakah isiannya harus di ganti atau harus mencari bahan bakku tempe di luar.

”Bi, Apakah Bibi ingat di daerah Huangpu ada penjual dari Indonesia yang memproduksi tempe dan tahu?” tanya Silvia sambil mengingat-ingat tempatnya.

”Iya Nyonya, di daerah Huangpu ada orang dari Indonesia yang kebetulan jualan bahan baku tersebut. Nyonya ingin saya membelikannya?”. Tanya Bibi Yun yang sedang meracik bumbu untuk sayup sop.

”Tidak perlu Bi, aku ingin keluar sendiri untuk mencari bahan bakunya. Sudah lama akku tidak ke pasar pagi. Disana juga ada beberapa barang yang ingin aku beli”

”Tapi Nyonya, kondisi anda masih belum membaik. Lebih baik saya saja yang membeli bahan makanan tersebut”, sanggah Bibi Yun, ia sangat tahu Nyonya nya itu sangat mudah menjadi incaran saat ini.

”Ayo dong Bi.. aku juga ingin jalan-jalan dan menghirup udara bebas..” bujuk Silvia,

”Bagaimana kalau saya ikut Bi? Kan masih ada penjaga bayangan dan Zain yang menjaga Silvia” sahut Lingling ikut memohon

”Kalian ini, sudah menikah pun masih suka merengek, Huft..” Bibi Yun hanya bisa menghela nafas panjang dengan sikap Nyonya nya itu, ”Baiklah Nyonya, kau bisa pergi tapi harus di kawal oleh penjaga bayangan.”

”Aku takkan menolaknya, Bibi bisa memerintahkan penjaga bayangan untuk mengikutiku. Ayo Lingling..” Silvia menarik tangan Lingling dan menghentikan akhifitasnya.

”Loh, kok aku di tinggal Mbak? Tega sekali kamu..” celetuk Nadia yang sedari tadi diam

”Sebentar kok Nad. Sementara waktu kamu temenin Bibi Yun di Mansion yah, aku mau belanja dulu..” ujung kata Silvia meliuk indah seolah sedang menikmati pagi harinya.

Silvia dan Lingling bersiap diri dengan tas mereka masing-masing. Ia yang saat ini memakai long dress sederhana tetap saja tidak meninggalkan kesan anggun yang terpancarkan dari dirinya, meski sebenarnya ia adalah wanita yang cerewet, jutek jika di depan suami bucinnya.

***

Setelah menempuh perjalanan 15 menit mereka akhirnya sampai di pasar Tian Zi Fang di daerah Huangpu dengan mengendarai mobil berkecepatan sedang. Setibanya di sana pengunjung langsung di manjakan dengan sebuah gang sempit dengan kanan kiri berjajaran banyak toko dan makanan ringan yang di jajakan.

Silvia dan Lingling yang baru saja turun langsung terpesona dengan pemandangan bangunan kuno dan lampion yang bergantungan, hingga kini kelestarian tempat masih di pertahankan. Selain sayuran dan makanan ringan ala pedagang kaki lima di pasar ini juga terdapat banyak toko souvenir seperti aneka bentuk giok, gucci dan sebagainya. Dan yang paling membuat Silvia tertarik karena ada 1 penjual asal Indonesia yang berjualan bahan baku tempe dan tahu khas Indonesia.

”Ayo kita masuk, kau boleh mencari jajanan sesukamu. Aku yang bayar” kata Silvia menawarkan dengan senyum meringis memperlihatkan gigi cantiknya.

”Kalau gitu aku takkan sungkan untuk menguras dompet Nyonya Lu dan borong semua jajanan disini.” Ujar Lingling.

Silvia dan Lingling mulai meyusuri pasar serta melihat-lihat ke sekeliling toko mencari barang yang mereka inginkan. Namun ada hal yang membuat Silvia dan Lingling merasa risih yaitu beberapa penjaga mereka yang diam-diam mengikuti mereka seperti pengintai.

”Apa kau juga merasa kita sedang di ikuti?” bisik Lingling dengan mata memandang kesekeliling curiga.

”Huft.. apa kau lupa Bibi Yun menyuruh anak buah Ludius untuk mengikuti kita. Mereka pasti sedang membuntuti secara diam-diam, karena memang mereka penjaga bayangan”