Chapter 212 - 212. Perawat Gadungan (1/2)
Semenjak kejadian pelayan yang diam-diam memperhatikan istrinya dengan pandangan liar dan penuh nafsu membuat Ludius semakin berhati-hati.
Silvia yang sore tadi baru terbangun dari tidurnya yang lelap langsung membersihkan diri. Ia yang baru berganti pakaian selepas mandi mendapat tatapan liar suaminya.
”Sayang.. Harum tubuhmu benar-benar menggodaku ”. Kata Ludius jahil pada istrinya, ia menarik Silvia hingga jatuh dalam pelukannya. Dengan liarnya ia mencium leher jenjang istrinya dan sedikit mengecupnya menutupi bekas merah yang masih berbekas.
Sedikit merinding Silvia dengan cepat menjaga jarak dengan Ludius, ”Tuan Lu.. Apa yang sedang kau lakukan? Apa yang tadi siang masih belum cukup? ”. Tanya Silvia dengan cemberut,
”Tubuhmu terlalu indah untuk sekedar di pandang Sayang, apalagi harum tubuhmu yang manis. Kau barusaja membangkitkan kembali hasrat suamimu”. Bisik Ludius
”Besok lagi yah Tuan Lu.. Apakah kau tidak kasihan pada istrimu yang masih lelah karenamu? ”. Ujar Silvia manja
”Aku hanya bercanda Sayang.. Sini, jangan jauh-jauh dariku. Apa aku begitu menakutkan”.
”Kau tidak hanya menakutkan, tapi juga LIAR”. Silvia melepas pelukan Ludius dan duduk di meja rias.
Bagai di sebuah hotel berbintang, Ruang Rawat yang di tempati Ludius ini bahkan memiliki segalanya. 'Apakah pria ini sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari? Tapi ini Rumah Sakit loh.. Aku tidak habis fikir, sebenarnya apa yang membuatnya melakukan hal semacam ini? '. Batin Silvia,
”Sayang.. kamu belum makan dari tadi siang, bagaimana kalau kita makan di luar? ”. Ajak Ludius
”Kalau kita makan diluar, lalu mau diapakan makanan yang sudah tersaji disini? ”. Tanya Silvia balik
”Uhm.. Tapi makanan ini dimasak tadi siang dan sudah dingin. Tidak baik untuk kesehatanmu Sayang… ”.
”Ludius.. Kau mungkin tidak tahu atau pura-pura menutup diri, diluar sana masih banyak orang membutuhkan, bahkan tidak sedikit dari mereka mengais makanan yang sudah ada di tong sampah. Jika suatu saat aku ada diposisi mereka, apa yang akan kamu lakukan Sayang? ”. Ujar Silvia yang sedang menyisir rambutnya seusai berdandan.
Ludius yang berdiri dibelakang Silvia sambil melihat kearah cermin tersentak, ia tidak bisa membayangkan akan mendapat pertanyaan seperti itu dari istrinya. Begitu dalam dan bijak dalam menyikapi hidup. 'Inikah hal yang selalu Istriku fikirkan? Dia selalu mengingat orang lain sebelum bertindak. Begitu bijaksana sampai aku tidak bisa mengerti jalan fikirannya'. Batin Ludius,
”Sayang.. Sampai kapan kamu akan terus mengejutkanku? Kebijaksanaan mu dalam menyikapi hidup begitu dalam bahkan aku belum bisa menggapainya”. Kata Ludius, ia berbalik berdiri didepan Silvia dan mengecup keningnya.