Chapter 129 - 129. Persiapan Resepsi (1/2)

Pagi ini Ludius terbangun dan waktu sudah menunjukkan pukul 05.00. Dia beranjak dari ranjangnya dan mengambil ponselnya. Hal sepagi ini yang terlintas di fikiran Ludius adalah menelfon Wangchu untuk mengatur keamanan selama resepsi berlangsung.

”Wangchu.. Bagaimana dengan persiapan keamanan untuk acara hari ini? ”.

”Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan setidaknya 200 penjaga. Aku pastikan tidak akan ada kesalahan yang sama seperti sebelumnya ”.

”Kamu jemputlah Paman dan Bibi, aku serahkan keamanan mereka padamu. Ini Negara orang lain, jika ada pergerakan dari manapun ingatlah untuk tidak gegabah atau memberi perlawanan berlebihan ”. Ludius menutup telefonnya , Dia meletakkan ponselnya kembali dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah selesai mandi, Pukul 06.00 ada tamu yang datang ke Apartement Ludius. Ludius yang masih menggunakan handuk kimono membukakan pintu.

”Permisi Tuan, saya dari penata rias di utus Nyonya Yuliana untuk membantu anda mempersiapkan diri. Perkenalkan saya Ibu Dewi dan ini asisten saya Rizka ”.

”Saya Ludius Lu. Silahkan kalian masuklah ”. Kata Ludius mempersilahkan. Ludius kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan membuatkan mereka minuman.

Kedua wanita yang membawa koper dan tas besar masuk dan duduk di shofa ruang tamu. Mereka membongkar isi tas dan koper, terlihat didalam koper terdapat 1 set pakaian pernikahan KANIGARAN yang merujuk pada dandanan khusus pengantin dari Keluarga Kerajaan di kesultanan Yogyakarta yang disebut PAES AGENG KANIGARAN. Pakaian kanigaran terbuat dari bahan beludru warna hitam yang dilengkapi dengan kain dodot atau kampuh sebagai bawahan. Riasan dan aksesoris beserta cara pakainya memiliki aturan khusus tersendiri dan hanya perias terlatih yang mampu melakukannya.

Ludius yang barusaja masuk kedalam untuk berganti pakaian keluar membawakan minuman dan beberapa makanan ringan untuk menyambut tamunya. ”Silahkan di nikmati hidangannya ”.

”Terima kasih Tuan sudah repot sendiri membawakan hidangan. Tuan.. Bisa kita mulai meriasnya? ”. Tanya Ibu Dewi.

”Tentu, terima kasih sebelumnya karena telah datang kemari ”.

Penata rias beserta asistennya mulai membantu Ludius memakai kain dodot yang memang terlihat sulit karena baru pertama kali seorang Ludius memakai pakaian serumit ini. Setelah memakai dodot Ludius memakai rompi beludru hitam dan mulai merias wajah dan memakaikan aksesoris pendukung, seperti keris, blangkon,dan rangkaian bunga melati yang membentuk sebuah kalung.

Butuh setidaknya hampir 1.5 jam untuk mereka merias Ludius. Dan hasilnya benar-benar membuat setiap mata yang memandangnya berbeda. Keluarlah sosok pria wajah putih tampan dengan postur tubuh tinggi tegap menggunakan Pakaian adat jawa khas Keraton Jogja lengkap dengan Keris di punggungnya dan blangkon serta aksesoris kalung riasan yang di buat layaknya Keluarga Kerajaan. Meski terlihat sederhana namun membuat siapapun yang melihatnya membawa kesan kagum akan ketampanan dan kewibawaannya.

”Tuan.. Karena anda memakai pakaian seperti ini mungkin akan sulit untuk anda berjalan. Mari saya bantu Tuan untuk keluar dari Apartement ”.

Ludius keluar dari Apartement dan menjadi pusat perhatian. Dia yang hanya bisa berjalan perlahan membuat siapapun yang melihatnya diam-diam mengambil gambarnya. Didepan Apartement sudah ada mobil yang sudah dipersiapkan untuk membawanya ke tempat pertemuan.

*****