Chapter 104 - 104. Resepsi Pernikahan (1/2)
Ludius mengulurkan tangannya ”Sayang, Pesta pernikahan sudah menunggu kita. Sebaiknya kita berangkat sekarang”.
”E.. Ah.. Iya,. ”. Jawab Silvia terbata, dia yang terus memandang Ludius membuatnya tidak fokus dengan apa yang dikatakan Ludius.
Ludius menggandeng Silvia menuruni tangga, dan ruang tamu sudah ada Ibu Yuliana yang menyambut mereka.
”Ibu doakan agar acara berjalan dengan lancar. Kami berangkat dulu”. Kata Silvia dan Ludius bersamaan.
”Doa ibu menyertai kalian… ”. Ibu Yuliana tersenyum mengantar kepergian mereka.
Ludius dan Silvia keluar menuju mobil yang sudah terparkir didepan pintu. ”Sayang… apapun yang terjadi, aku akan selalu menjagamu ”. Kata Ludius sebelum mereka pergi.
Demi menjaga keamanan Silvia, mobil mereka bahkan di kawal oleh beberapa mobil dibelakang mereka. Hanya butuh waktu setengah jam perjalanan untuk sampai di Hotel Star Victoria. Sesampainya di depan hotel, penjaga yang sudah berjajar rapih dengan setelan Jas membukakan pintu untuk Ludius dan Silvia. Perlahan Silvia turun dari mobil dibantu Ludius. Di pintu masuk sudah ada Red Carpet menyambut mereka. Dengan Ludius menggandeng Silvia, mereka berjalan perlahan memasuki gedung Resepsi.
”Jangan gugup Sayang, bukankah ini hanya sebuah acara? Lagipula kita telah menikah”. Bisik Ludius yang melihat Silvia sedikit gugup.
Didepan mereka sudah banyak tamu yang datang. Dari arah depan, Ling Ling datang bersama Bryan. Dari Keluarga besar Lu dan Zhuan sudah hadir dan beberapa tamu penting seperti pak Dubes, Pak menteri dan Direktur dari berbagai Perusahaan sudah datang. Mata Ludius menatap tajam pada seseorang yang mengusik pandangan dan fikirannya.
”Permisi Tuan Lu, bisakah aku pinjam Istrimu sebentar? Aku janji akan menjaganya Baik-baik”. Kata Ling Ling yang sudah di samping membuyarkan fikiran Ludius yang sedang memperhatikan seseorang.
”Silahkan Nyonya Bryan, tapi kalau aku mendapati Istriku terluka. Maka Suamimu harus membayarnya”. Balas Ludius.
Ling Ling hanya melebarkan senyum dan membawa Silvia pergi. Ini menjadi sebuah kesempatan untuk Ludius menyapa satu orang yang mengusiknya. Ludius berjalan dengan serius menghampiri orang yang mengusik fikirannya.
”Selamat Datang Tuan Rossman Nero, aku senang Tuan Nero bisa hadir dalam resepsi Pernikahanku”. Sapa Ludius dengan senyum dipaksakan.
”Tentu saja aku harus datang menghadiri Pernikahan dari Direktur Perusahaan terbesar di Shanghai. Aku juga sudah menyiapkan hadiah besar untukmu Tuan Lu. Apakah kamu tidak ingin mengetahuinya?”. Tanya Rossman Nero dengan licik nya.
”Terima kasih Tuan Nero telah susah payah menyiapkan hadiah besar. Aku sebagai Tuan Rumah sangat tersanjung. Aku sungguh penasaran, Hadiah besar seperti apa yang akan Tuan Rossman Nero berikan untuk pernikahanku?”. Balas Ludius dengan tatapan licik. Dalam dunia yang selalu Ludius pijaki, Kelicikan memang harus dibalas dengan kelicikan.
”Tentu saja hal yang akan membuat Tuan Lu terkejut, Bukankah selama ini aku selalu memberikan sebuah kejutan?! ”.
”Tuan Nero sungguh sangat pengertian. Tapi maaf saja jika nantinya tidak sesuai dengan harapanmu Tuan Nero. Tidak semua kejutan dapat membuat orang terkejut dan senang. Tapi karena Tuan sudah sejauh ini menyiapkan hadiahnya, aku akan menerima dengan senang hati. Dan Tuan.. Aku juga mempunyai hadiah kecil untuk Tuan Nero”.
Perkataan Ludius yang seakan mengerti situasi dan memegang kendali penuh membuat Rossman Nero mengerutkan kening, nafasnya bahkan berpacu lebih cepat seperti sedang menahan amarah.