Chapter 55 - 55 (1/2)
Belum sampai disini Ludius memberi kejutan pada Silvia. Masih ada kejutan terakhir yang menanti malam nanti. Karena waktu sudah sore Ludius membawa Silvia kembali ke Rumah Sakit untuk membersihkan diri. Diam-diam Ludius sudah pesankan Dress yang Silvia inginkan di butik waktu berbelanja dengan suster.
”Kita akan kemana lagi Tuan Lu?” Tanya Silvia bingung karena hari benar-benar penuh kejutan.
”Pulang ke rumah sakit. Ini sudah waktunya kamu di periksa dan membersihkan diri. Suster sudah menunggumu disana.Hehe.. Dokter mungkin akan marah nanti karena aku telah membawa pasiennya kabur”. Kata Ludius dengan tertawa aneh.
….
Di rumah sakit, Ludius membawa Silvia ke ruangannya. Tidak disangka Hanson dan Lithian datang menjenguk Silvia. Silvia yang melihat ada dua orang pria datang ke ruang rawatnya membuatnya bingung.
Ludius yang mengetahui kondisi ini langsung bergerak. ”Sayang.. Mereka adalah Dosen dan Mahasiswa dari kampus tempat kamu kuliah dulu” kata Ludius memberitahu.
'Aku mengenal mereka? Tapi siapa sebenarnya mereka?'. Silvia mencoba mengingat-ingat.
Silvia memandang lekat-lekat kedua pria yang berdiri didepannya itu. Tiba-tiba sekelebat ingatan masa lalu singgah dari fikirannya. Ingatan tentang pertemuan antara Ludius, Li Thian dan Hanson. Silvia mengerang kesakitan, dia memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Ketiga pria yang sejatinya tertarik pada Silvia ini membuat respon yang sama. Mereka bergerak mendeti Silvia dan dan menanyakan hal yang sama.
”Sayang.. Apa ada yang terluka?”. Tanya Ludius. Li Thian dan Hanson yang sadar telah memegangi Silvia tersadar dengan perkataan Ludius.
”Tidak.. Aku hanya sedikit pusing. Tapi jelaskan padaku, Sebenarnya siapa kalian?” tanya Silvia lirih
Ludius menggendong Silvia dan membaringkannya di ranjang. Dengan cepat dia menghubungi Dokter untuk datang keruangan Silv
Melihat kesungguhan Ludius dalam menjaga Silvia, Li Thian berbalik arah tanpa memjawab pertanyaannya. Dalam fikiran Li Thian, dia memang sudah harus menyerahkan tanggung jawab menjaga Li Thian pada Ludius.
Disaat Li Thian akan keluar, Julian masuk dengan membawa sedikit cemilan untuk Silvia.
”Silvia.. Mereka siapa?” Tanya Julian sedikit kaget karena melihat beberapa pria di ruangannya
”Ah itu Kak.. Mereka mengatakan kalau mereka Dosen dan teman Mahasiswa di Kampus”. Jawab Silvia dengan memasang senyum di paksakan menahan sakit.
Mata pria-pria itu saling memandang dengan sinis, suhu ruangan tiba-tiba berubah menjadi dingin. Seperti terjadi perang dingin antara mereka.
'Situasi macam apa ini? Seseorang tolong, cairkan suasana yang beku ini!'. Batin Silvia.
Tidak lama Suster Jing Mi datang membawa beberapa peralatan medis dan pakaian yang sudah Ludius pesankan.
”Tuan-tuan. Bisakah kalian keluar, biarkan pasien untuk istirahat. Kalian bisa menjenguknya lain waktu”. Kata Suster Jing Mi memecah keheningan.
Satu persatu mereka keluar tanpa berbicara sepatah katapun yang membuat Silvia semakin penasaran ada hubungan apa mereka dengannya. Jika hanya sebuah teman dan guru Silvia berfikir tidak mungkin akan seserius ini suasanya.
Kini tersisa Ludius dan suster Jing Mi yang berada di ruangan Silvia.