Chapter 147 Akan lebih menyakitkan jika aku ikut terlibat (1/2)
” Sayang, tadi Jimmy menghubungiku. Dia memberi tahuku kalau Julian Dinata lah orang yang selama ini berusaha menyelidiki mu. Dia ingin membangun hubungan baik denganmu, tentu saja agar dia bisa mendapatkan dukungan sepenuhnya darimu dan mengalahkan Jimmy” Gina menghampiri Yudha dan duduk disebelahnya dengan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami
” Jadi begitu rupanya.. Biarkan saja, kita lihat saja apa yang sudah mereka rencanakan untuk mendekati ku. Mereka salah besar jika harus melibatkan aku dalam permainan konyol mereka. Itu akan lebih menyakitkan untuk mereka jika aku ikut terlibat di dalamnya” tersirat sebuah kelicikan dari senyum dan tatapan Yudha
” Ya baguslah kalau kamu ikut terlibat. Permainan akan lebih seru lagi kalau aku juga bisa terlibat. Aku sangat ingin mempermalukan dan merendahkan mereka, hingga ke lubang tak berdasar. Tapi, tidak,,, aku hanya ingin menonton pertunjukan besar saja kali ini. Aku menantikan pertunjukan besar itu sayang. Pertunjukan dimana mereka akan sangat malu karena berusaha mempermainkan kita ”
Pasangan itu lebih suka menghabiskan waktu dengan satu sama lain. Terlebih lagi setelah anak mereka lahir. Yudha akan bergegas untuk pulang kerumah jika memang memungkinkan dan tidak suka menghadiri acara di luar. Terkecuali bersama sang istri.
=====
Kali ini Hendri bisa mempunyai kesempatan untuk menjemput Risti dari kantornya
” Apa kamu sudah lama menunggu? Ayo kita pergi dari sini! ”
Hendri menggandeng tangan Risti dan membawanya memasuki mobil. Lalu mulai berkendara pergi meninggalkan kantor Gina, melalui jalanan yang ramai karena jam pulang kantor. Menuju ke sebuah restoran untuk menikmati makan malam bersama
”Maaf, karena beberapa hari ini aku tidak menjemput mu. Aku memiliki banyak pekerjaan akhir - akhir ini. Karena tuan selalu saja ingin cepat pulang. Jadi aku harus menggantikan dia mengerjakannya! ” Hendri mengeluh setelah bertemu dengan Risti
” Iya tidak apa ka. Aku ngerti ko, tuan dan mba Gina kan memang selalu ingin sama - sama. Apalagi setelah punya si kembar di dalam kehidupan mereka. Jadi wajar saja kalau tuan ingin cepat pulang kerumah ” Risti tersenyum lembut saat berbicara
” Tunggu, apa? ka? Tumben sekali kamu manggil aku ka? kemarin - kemarin panggil aku mas! ”
Hendri terlihat menatap Isti demgan heran dengan alisnya yang sedikit terangkat
” Eh,,, itu,, karena ku pikir aku memanggil semuanya dengan panggilan mas, jadi aku ingin memanggil mu dengan sebutan yang berbeda ” Wajah Risti seketika berubah merah seperti tomat. Dia pun tertunduk karena malu
” Tapi aku tidak suka panggilan itu ”
Hendri memasang wajah yang murung
” Bagaimana kalau kamu panggil aku sayang saja! ”
” Ach ...”
Risti begitu terkejut, dia terus saja menatap wajah tampan Hendri dengan wajah yang memerah
” Apa kamu tidak mau memanggil ku dengan sebutan itu? Lantas kamu mau memanggil ku apa? ” Hendri terus mendesak Risti hingga dia menjadi salah tingkah
” Itu,, itu,,, baiklah,,, sayang! ”