Chapter 98 Tentang Nadia (2/2)
” Hai Nadia,, Maaf telah membuatmu menunggu? ” Gina mendekati kearah Nadia dan menarik kursi untuk duduk bersamanya
” Ach tidak apa, aku juga belum lama tiba disini ” Nadia tersenyum ramah menyambut Gina
” Aku ingin mengucapkan terimakasih banyak, karena kamu telah membantu ku untuk membalas Riko tempo hari ” Gina tersenyum saat berbicara.
” Sama - sama. Tidak perlu sungkan padaku. Gina apa kamu mengingat ku? ”
Gina memicingkan mata. Menatap Nadia
” Apa kita saling kenal?
Ku rasa kita tidak pernah bertemu sebelumnya! ”
Gina berbicara sambil berusaha mengingat - ngingat
” Aku Nadia Dwi Praja. Kita selalu main bersama ketika kecil sampai akhirnya keluargaku bangkrut saat aku menjelang SMA. Kamu ingat papaku Angga Praja? ”
Nadia berusaha membuat Gina ingat tentang masa lalu mereka
” Ach aku ingat. Kamu Nadia teman sekolahku, dulu paman Praja selalu mengajakmu bermain kerumah”
Gina berkata dengan senyum lebar dan Nadia menganggukkan kepalanya berkali - kali
” Benar, dulu kita selalu main bersama. Sampai kejadian buruk itu menimpa keluarga ku dan kita tidak pernah bertemu lagi ”
Wajah Nadia berubag muram saat mengenang masa lalunya
” Sebenarnya apa yang terjadi, sehingga kamu meninggalkan kota ini tanpa pamit padaku? ” Tanya Gina dengan wajah yang berubah sendu
” Keluarga ku bangkrut karena keluarga Riko, mereka diam - diam menyabotase harga saham perusahaan ku. Papa ku terkejut dan terkena serangan jantung, tidak lama setelah kepergian papa, mama pun sakit - sakitan dan meninggalkan aku dan Satya. Dan lebih parahnya lagi keluarga itu meminta anak buahnya untuk menculik dan memperkosa ku, hingga akhirnya aku mengalami depresi karena trauma. Kakak ku Satya bekerja keras untuk menyembuhkan depresi ku. Untungnya kami bertemu keluarga Kusuma. Mereka membantu kami dari keterpurukan ” Tanpa sadar Nadia meneteskan air matanya
” Maaf, karena aku tidak tahu apapun mengenai itu. Dan lebih bodohnya lagi aku pernah jatuh cinta pada orang yang pernah merusak hidupmu ”
Gina menyesal tidak mengetahui masa lalu Nadia dan tidak berada di sisinya disaat masa terburuk Nadia, sedangkan dulu Nadia selalu jadi teman yang setia saat dia sedang merasa mendapatkan ketidak adilan dari keluarganya. Dialah tempat berlindung bagi Gina saat Arin, Riska dan Siska selalu bersikap buruk padanya. Dia selalu mendengarkan keluh kesahnya dan menjadi sandaran saat Gina menangis.